Pemanfaatan Kelas Maya Rumah Belajar

Kelas yang berbasis virtual ini menjadi satu-satunya fitur di Rumah belajar yang berfungsi sebagai Learning Management System (LMS).

Inovasi Penerapan Model Pembelajaran Blended Learning Berbasis Kelas Maya dan Quizizz

Dengan penerapan Blended Learning berbasis Kelas Maya dan Quizizz, siswa menjadi senang untuk belajar dan merasa tertantang

Sosialisasi Penerapan Blended learning dalam pembelajaran Sejarah dengan Rumah Belajar

Partisipan terdiri dari para guru sejarah yang tergabung dalam AGSI, IKA Sejarah UPI, MGMP Bandung, Bogor dan Bintan, dihadiri juga oleh partisipan umum dari seluruh Indonesia

Ngobrol Bareng SRB Kepri 2020 dari unsur GGD

Para Guru Garis Depan (GGD) ini berbagi mengenai pemanfaaatan kelas maya dan sumber belajar, juga cara membuat media untuk diunggah di Sumber Belajar

Berbagi di rumah sendiri: SMAN 1 Bintan Pesisir

kami berdua berbagi kepada rekan-rekan kerja kami di SMAN 1 Bintan Pesisir. Alhamdulillah disambut hangat dan mendapat apresiasi yang sangat besar dari kepala sekolah

Aksi Nyata Modul 1.4 | Budaya Positif - Berbagi Praktik Baik Penerapan

 


Assalamu alaikum 

Perkenalkan nama saya Nurjaman. Saya adalah guru sejarah di SMAN 1 Bintan Pesisir, Kab. Bintan, Provinsi Kepulauan Riau, Indonesia. Saat ini, saya sedang menjalani Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 7 dari Kabupaten Bintan. Pelatihan ini dimulai sejak 20 Oktober 2022, dan saat ini proses terus berjalan.

Banyak sekali inspirasi dan perubahan saat mengikuti program ini. Banyak hal baru yang ketika diterapkan di kelas, sangat menarik antusias peserta didik. Sehingga dapat dibilang, pelatihan ini termasuk salah satu pelatihan terbaik yang pernah saya ikuti. 

Saat ini, saya berada pada modul 1.4 yaitu Budaya Positif. Sebelumnya, telah dipelajari juga modul 1.1 Refleksi Filosofis Pendidikan Nasional - Ki Hajar Dewantara, Modul 1.2 Nilai dan Peran Guru Perak dan Modul 1.3 Visi Guru Penggerak. Dalam modul ini kami belajar mengenai bagaimana budaya positif direfleksikan, dirancang, dan diterapkan dalam kelas dan sekolah. Materi intinya da 6 materi yaitu,

  1. Disiplin Positif dan Nilai-nilai Kebajikan Universal

Kata “disiplin”, bagi kebanyakan orang selalu identic dengan tata tertib, teratur, dan kepatuhan pada peraturan.  Kata “disiplin” juga sering dihubungkan dengan hukuman, padahal itu sungguh berbeda, karena belajar tentang disiplin positif tidak harus dengan memberi hukuman, justru itu adalah salah satu alternatif terakhir dan kalau perlu tidak digunakan sama sekali.

Dalam budaya kita, makna kata ‘disiplin’ dimaknai menjadi sesuatu yang dilakukan seseorang pada orang lain untuk mendapatkan kepatuhan. Kita cenderung menghubungkan kata ‘disiplin’ dengan ketidaknyamanan.

Disiplin positif, harusnya berkaitan dengan nilai-nilai kebajikan universal. Nilai-nilai ini merupakan ‘payung besar’ dari sikap dan perilaku kita, atau nilai-nilai ini merupakan fondasi kita berperilaku. Nilai-nilai kebajikan adalah sifat-sifat positif manusia yang merupakan tujuan mulia yang ingin dicapai setiap individu. 

2.     Teori Motivasi, Hukuman dan Penghargaan, Restitusi

Teori Motivasi terdiri dari dua, eksternal dan internal. Motivasi eksternal muncul karena dorongan dari luar, yaitu menginginkan penghargaan dan menghindari hukuman. Sedangkan motivasi internal berasal dari dalam diri sendiri, yaitu menghargai diri sendiri.

Hukuman dan penghargaan, pada materi ini yang paling saya ingat adalah ternyata penghargaan pun dapat menjadi hukuman untuk orang lain. Logikanya adalah stimulus dan respon. Lain halnya dengan restitusi, bukan stimulus-respon tapi bagaimana murid dapat berada dalam dunia berkualitas versinya, menawarkan solusi dan menjalani solusi itu dengan perasaan diterima tanpa perasaan dihukum. Sehingga kedewasaan murid lebih berkembang

  1. Keyakinan Kelas

Nilai-nilai Kebajikan menekankan pada keyakinan seseorang. Hal ini dapat memotivasi seseorang dari dalam. Seseorang akan lebih tergerak dan bersemangat untuk menjalankan keyakinannya, daripada hanya sekedar mengikuti serangkaian peraturan tertulis tanpa makna. Murid-murid pun demikian, mereka perlu mendengarkan dan memahami arti sesungguhnya tentang peraturan-peraturan yang diberikan, apa nilai-nilai kebajikan dibalik peraturan tersebut, apa tujuan utamanya, dan menjadi tidak tertarik, atau takut sehingga hanya sekedar mengikuti serangkaian peraturan-peraturan yang mengatur mereka tanpa memahami tujuan mulianya.

  1. Kebutuhan Dasar Manusia dan Dunia Berkualitas

Seperti sudah dipelajari dalam modul sebelumnya, William Glasser menjelaskan bahwa kebutuhan dasar manunsia terdiri dari 5 kebutuhan, yaitu kebutuhan hidup untuk bertahan hidup (survival), cinta dan kasih sayang (love and belonging), kebebasan (freedom), kesenangan (fun) dan kekuasaan (power). Semua kebutuhan dasar tersebut akan diupayakan setiap manusia untuk mencukupinya dengan baik, namun apabila ada yang belum dapat terpenuhi maka aka nada perbuatan yang bertentangan dengan nilai-nilai kebajikan.

  1. Lima Posisi Kontrol

Lima posisi kontrol terdiri dari pembuat rasa bersalah, penghukum, teman, pemantau dan manajer.

  1. Segitiga Restitusi

Terdiri dari 3 langkah penting stabilisasi identitas, validasi kesalahan, dan menanyakan keyakinan.

Dalam berbagi praktik baik ini, kami bagi ke dalam 3 bagian. Hal ini dilakukan untuk mengakomodir Guru Penggerak lain di sekolah, yaitu Anggi Perdana dan Erik Lukito. Materi 1 dan 2 dibawakan oleh saya, 3 dan 4 oleh Anggi Perdana, dan materi 5-6 oleh Erik Lukito.

Berikut adalah hasil rekaman dari kegiatan ini: