Assalamu
alaikum
Perkenalkan
nama saya Nurjaman. Saya adalah guru sejarah di SMAN 1 Bintan Pesisir, Kab.
Bintan, Provinsi Kepulauan Riau, Indonesia. Saat ini, saya sedang menjalani
Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 7 dari Kabupaten Bintan. Pelatihan ini
dimulai sejak 20 Oktober 2022, dan saat ini proses terus berjalan.
Banyak
sekali inspirasi dan perubahan saat mengikuti program ini. Banyak hal baru yang
ketika diterapkan di kelas, sangat menarik antusias peserta didik. Sehingga
dapat dibilang, pelatihan ini termasuk salah satu pelatihan terbaik yang pernah
saya ikuti.
Saat ini,
saya berada pada modul 1.4 yaitu Budaya Positif. Sebelumnya, telah dipelajari
juga modul 1.1 Refleksi Filosofis Pendidikan Nasional - Ki Hajar Dewantara,
Modul 1.2 Nilai dan Peran Guru Perak dan Modul 1.3 Visi Guru Penggerak. Dalam
modul ini kami belajar mengenai bagaimana budaya positif direfleksikan,
dirancang, dan diterapkan dalam kelas dan sekolah. Materi intinya da 6 materi
yaitu,
- Disiplin Positif dan
Nilai-nilai Kebajikan Universal
Kata “disiplin”, bagi kebanyakan
orang selalu identic dengan tata tertib, teratur, dan kepatuhan pada
peraturan. Kata “disiplin” juga sering
dihubungkan dengan hukuman, padahal itu sungguh berbeda, karena belajar tentang
disiplin positif tidak harus dengan memberi hukuman, justru itu adalah salah
satu alternatif terakhir dan kalau perlu tidak digunakan sama sekali.
Dalam budaya kita, makna
kata ‘disiplin’ dimaknai menjadi sesuatu yang dilakukan seseorang pada orang
lain untuk mendapatkan kepatuhan. Kita cenderung menghubungkan kata ‘disiplin’
dengan ketidaknyamanan.
Disiplin positif,
harusnya berkaitan dengan nilai-nilai kebajikan universal. Nilai-nilai ini
merupakan ‘payung besar’ dari sikap dan perilaku kita, atau nilai-nilai ini
merupakan fondasi kita berperilaku. Nilai-nilai kebajikan adalah sifat-sifat
positif manusia yang merupakan tujuan mulia yang ingin dicapai setiap individu.
2. Teori Motivasi, Hukuman dan Penghargaan, Restitusi
Teori Motivasi terdiri dari dua, eksternal dan internal. Motivasi eksternal muncul karena dorongan dari luar, yaitu menginginkan penghargaan dan menghindari hukuman. Sedangkan motivasi internal berasal dari dalam diri sendiri, yaitu menghargai diri sendiri.
Hukuman dan penghargaan, pada materi ini yang paling saya ingat adalah ternyata penghargaan pun dapat menjadi hukuman untuk orang lain. Logikanya adalah stimulus dan respon. Lain halnya dengan restitusi, bukan stimulus-respon tapi bagaimana murid dapat berada dalam dunia berkualitas versinya, menawarkan solusi dan menjalani solusi itu dengan perasaan diterima tanpa perasaan dihukum. Sehingga kedewasaan murid lebih berkembang
- Keyakinan Kelas
Nilai-nilai Kebajikan menekankan
pada keyakinan seseorang. Hal ini dapat memotivasi seseorang dari dalam.
Seseorang akan lebih tergerak dan bersemangat untuk menjalankan keyakinannya,
daripada hanya sekedar mengikuti serangkaian peraturan tertulis tanpa makna.
Murid-murid pun demikian, mereka perlu mendengarkan dan memahami arti
sesungguhnya tentang peraturan-peraturan yang diberikan, apa nilai-nilai
kebajikan dibalik peraturan tersebut, apa tujuan utamanya, dan menjadi tidak
tertarik, atau takut sehingga hanya sekedar mengikuti serangkaian
peraturan-peraturan yang mengatur mereka tanpa memahami tujuan mulianya.
- Kebutuhan Dasar Manusia dan
Dunia Berkualitas
Seperti sudah dipelajari dalam modul sebelumnya, William
Glasser menjelaskan bahwa kebutuhan dasar manunsia terdiri dari 5 kebutuhan,
yaitu kebutuhan hidup untuk bertahan hidup (survival), cinta dan kasih sayang
(love and belonging), kebebasan (freedom), kesenangan (fun) dan kekuasaan
(power). Semua kebutuhan dasar tersebut akan diupayakan setiap manusia untuk
mencukupinya dengan baik, namun apabila ada yang belum dapat terpenuhi maka aka
nada perbuatan yang bertentangan dengan nilai-nilai kebajikan.
- Lima Posisi Kontrol
Lima posisi kontrol terdiri dari pembuat rasa
bersalah, penghukum, teman, pemantau dan manajer.
- Segitiga Restitusi
Terdiri dari 3 langkah penting stabilisasi identitas,
validasi kesalahan, dan menanyakan keyakinan.
Dalam
berbagi praktik baik ini, kami bagi ke dalam 3 bagian. Hal ini dilakukan untuk
mengakomodir Guru Penggerak lain di sekolah, yaitu Anggi Perdana dan Erik
Lukito. Materi 1 dan 2 dibawakan oleh saya, 3 dan 4 oleh Anggi Perdana, dan
materi 5-6 oleh Erik Lukito.
Berikut
adalah hasil rekaman dari kegiatan ini:





.png)
0 Comments:
Posting Komentar